Sinergi Berkarya

Sabtu, 21 Maret 2015

Demokrasi Itu Dinamis

Oleh : Faisal Hatami

Willy Eichler dari Partai Sosial  Demokrat Jerman mengatakan demokrasi akhirnya menjadi sama dengan proses demokratisasi. Ini berarti demokrasi adalah sesuatu yang dinamis. Senantiasa berubah, kadang ke arah negatif, kadang ke arah positif.
Suatu negara disebut demokratis jika terdapat proses-proses perkembangan menuju ke arah keadaan yang lebih baik dalam melaksanakan nilai-nilai hak asasi manusia, dalam memberi hak kepada masyarakat, baik individu maupun sosial untuk mewujudkan nilai-nilai itu.
Hal lain yang dapat digunakan untuk mengukur maju mundurnya demokrasi ialah seberapa jauh, bertambah atau berkurang, kebebasan asasi, seperti kebebasan menyatakan pendapat, berserikat, dan berkumpul. Ketiganya dapat dirinci lebih dalam kaitannya dengan berbagai bidang kehidupan perorangan dan kemasyarakatan, seperti politik, ekonomi, budaya, akademik, dan hukum.

Kedinamisan demokrasi ini juga dapat menimbulkan ironis. Misalnya, jika sebuah negara yang disebut paling demokratis, Amerika Serikat, justru akan dinilai tidak lagi demokratis jika ia menunjukan gejala “kemandekan” dengan menghambat laju tuntutan dan pelaksanaan kebebasan-kebebasan asasi para warganya.
Apalagi jika kepada kategori pengujian kedemokratisan negara itu, dimasukan pula unsur seberapa jauh terlaksana dengan nyata prinsip kesamaan umat manusia.
Negara berkembang pun dalam perspektif Eichler mungkin harus dipandang sebagai “lebih demokratis” jika padanya terdapat proses-proses perkembangan kemajuan sejati. Dalam mewujudkan dan melaksanakan kebebasan berupa kebebasan menyatakan pendapat, berserikat, dan berkumpul.
Perlu diperhatiakan dalam perspektif tentang demokrasi ialah pesan tentang pentingnya perkembangan, dan bahanyanya kemandekan. Masyarakat demokratis cenderung ribut, tapi keributan itu dinilai pasti lebih baik daripada ketenangan karena kemandekan.
Dalam penglihatan Eichler, Indonesia dapat digolongkan sebagai “negara demokrasi”. Dengan mengatakan negara kita demokratis kita menyisihkan ruang dan hak keabsahan bagi diri kita untuk betul-betul berpikir dan berprilaku demokratis, dan untuk menuntut dari semua orang agar berbuat serupa, khususnya dari mereka yang tergolong “penentu kecenderungan” dengan kekuasaaan yang efektif.
*Cuplikan hasil bacaan


0 komentar:

Posting Komentar