Sinergi Berkarya

Sabtu, 21 Maret 2015

Mahasiswa dan Politik

Oleh : Faisal Hatami

Tahun pertama kuliah, kami di wanti-wanti supaya menghindari politik praktis. Dengan masuk menjadi anggota organisasi ekstra kampus. Alasannya sederhana: independensi.
Di satu sisi, “pelarangan” itu punya nilai positif. Kami dibiasakan untuk melihat persoalan kampus secara seimbang. Tidak memihak pada kepentingan kelompok atau organisasi ekstra kampus tertentu. Namun, di sisi lain ruang ekspresi jadi sangat terbatas. Kami butuh ruang yang lebih luas, bukan hanya di HMJ atau UKM, kami ingin mengenal politik kampus. Pikir kami: kalau mahasiswa belum tahu politik belum jadi mahasiswa. beberapa orang akhirnya memang bergabung dengan organisasi ekstra kampus.
Dunia mahasiswa dan dunia politik seharusnya bukan dunia yang terpisah. Kita tidak dapat memisahkan antara pendidikan dan lingkungan sosial karena keduanya, pada hakekatnya, seperti tanaman dan substrat dimaan ia tumbuh dan mendapatkan kehidupan. Mahasiswa kerap disebut sosok manusia setengah dewa. Di pundaknya tergantung banyak harapan sebagai agen perubahan, penuh idealisme, kreatif, dan inovattif.
Tetapi di sisi lain mereka sering “dihujat” karena ulah mereka: perilaku hura-hura, cuek, nakal, konsumtif, bahkan alay. Dalam politik –khususnya di kampus dulu- mahasiswa lebih banyak diposisikan sebagai target/obyek (direkrut untuk menambah jumlah anggota, dimobilisasi untuk demonstrasi, dll). Sedikit yang diperlakukan sebagai subyek (berapa organisasi ekstra kampus yang pernah survei apa kebutuhan mahasiswa? berapa banyak kebijakan kampus yang pro-mahasiswa?, dll).
Rosihan Anwar menulis dalam buku Musim Berganti, dialog antara seorang mahasiswa Belanda denga Bung Karno: "Tuan, saya lihat tuan telah membaca semua buku yang tuan pesan dengan sungguh-sungguh sekali . Mengapa tuan belajar begitu giat?"
Bung Karno menjawab: "Orang muda, saya harus belajar giat sekali karena, Insya Allah, saya akan menjadi presiden di negeri ini".
Dialog di atas terjadi di rumah pembuangan Bung Karno di Bengkulu, tahun 1938. Di sini saya ingin menunjukan bahwa mahasiswa adalah jenis yang istimewa. Secara biologis istimewa, mereka ada pada lapisan umur yang cocok untuk menjadi pelopor perbaikan keadaan.
Secara sosial, mahasiswa memperoleh status istimewa dan menikmati fasilitas istimewa. Terlebih kurikulum pendidikan tinggi dirancang  untuk mendidik mahasiswa menjadi calon pemimpin. Lulusan perguruan tinggi bukan calon “klerk”. (Mas’oed, 2003:184)
Mahasiswa tak selamanya tinggal di kampus. Kemudian mereka akan lulus dan kembali ke masyarakat. Saya kira ada dua peran pokok lulusan perguruan tinggi di masyarakat. pertama, sebagai manager atau kedua, sebagai pencetus gagasan. Yang pertama lebih berorientasi pada tindakan, lebih menekankan masalah “how to get things done”. Sementara yang kedua berorientasi pada kegiatan pemikiran, yaitu menekankan pada kerja “asah otak” untuk melahirkan kemungkinan alternatif.
Kalau pean pertama lebih memerlukan bekal keilmuan yang menunjang penyelesaian masalah dalam suatu bidang dan ilmu-ilmu manajemen dan bersifat teknokratis, peran kedua lebih memerlukan bekal keilmuan yang mengutamakan kontemplasi.
Bung Karno adalah pribadi yang menggabungkan kedua fungsi tersebut. Ia tak hanya mencetuskan gagasan yang dituangkan dalam berbagai tulisan, tetapi menerapkannya melalui organisasi-organisasi yang dipimpinnya.
Baik fungsi manager atau pencetus gagasan memerlukan syarat utama, yaitu belajar bermasyarakat. Utamanya belajar memimpin masyarakat. Belajar menyelesaikan masalah-masalah kemasyarakatan pada dasarnya belajar berpolitik.

Tahapan Berpolitik dan Tipe Mahasiswa
Pada tahap awal belajar berpolitik, mungkin hanya menjadi spectator politic atau attentive public. Selanjutnya menjadi actor politic.
Menjadi aktor politik berarti kita aktif dalam sistem politik. Bagaimana merumuskan persoalan dan tuntutan, mengelolanya sampai menjadi usulan kebijaksanaan. Dan bagaimana mempengaruhi pelaku politik lain untuk mendukung kebijaksanaan itu.
Belajar menjadi aktor politik diarahkan untuk menjadi warganegara yang aktif dan kritis, tetapi juga patuh aturan. Di sini kita tidak hanya diajari bagaimana “berkelahi” memperjuangkan pendapat dalam proses pembuatan aturan main, tetapi juga diajari bagaimana mematuhi aturan main yang sudah diputuskan bersama.
Pada tahapan selanjutnya, para pelaja rpolitik akan mengembangkan kemampuan mendesain aturan main atau kerangka politik untuk mencapai tujuan tertentu.Dalam pencapaian tujuan apapun: sosial, kultural, ekonomi, dan tentu sjaa politik diperlukan kerangka politik yang mampu mengerahkan sebanyak mungkin dukungan anggota masyarakat bagi pencapaian tujuan itu.
Sekarang yang jadi masalahnya adalah mahasiswa cenderung tidak diajari bagaiamana berpolitik secara tepat (bagaimana berdiskusi yang baik, bagaimana menerimaperbedaan, bagaimana bertoleransi dengan keberagaman, bagaimana bertanggung jawab dalam menggunakan fasilitas publik, dll). Akibatnya, banyak mahasiswa yang merasa dirinya tidak bermakna dalam politik. Sebagian cenderung tidak punya “greget” untuk memikirkan kehidupan politik. Dalam beberapa hal nampak jelas berkembang sinisme dan apatisme.
Memang tipe mahasiswa sekarang sangat beragam. Diperlukan pendekatan berbeda pula guna menumbuhkan minat berpolitik dan beraktivitas politik.
Mahasiswa makin cerdas dan rasional. ditunjang dengan bermacam-macam kecanggihan gadget, perlu redefinisi pemaknaan politik yang lebih “membumi, yang terkait pemenuhan kebutuhan hidup sehari-hari.
Sedikitnya ada 4 tipe kelompok mahasiswa. Pertama kelompok hura-hura. Kelompok ini menghabiskan sebagian besar waktunya untuk berpesta dan “dugem”. Kedua, kelompok hore-hore yang aktif dalam berbagai aktivitas sebagai penggembira. Ketiga, kelompok huru-hara, yang sering jadi biang kerok tawuran. Dan, keempat kelompok hiri-hiri, yaitu kelompok mahasiswa yang hanya fokus pada urusan belajarnya sendiri, sehingga hanya mengenal ruang belajar, ruang peprustakaan, tempat kost, dan sekitarnya. (Muttaqin, 2009).
Kampus adalah kawah candradimuka bagi lahirnya pemimin-pemimpin Indonesia masa depan. Masa depan Indonesia tidak bisa kita percayakan kepada textbook ideologi apapun. Sains dan vis kenegarawanan adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan dan menjadi kebutuhan kita saat ini.
Selamat berpolitik!
Mahasiswa Pascasarjana Universitas Diponegoro
Anggota Komunitas Anak Tangga UIN Bandung


0 komentar:

Posting Komentar