Oleh : Faisal Hatami
Tahun
pertama kuliah, kami di wanti-wanti supaya menghindari politik praktis. Dengan
masuk menjadi anggota organisasi ekstra kampus. Alasannya sederhana:
independensi.
Di
satu sisi, “pelarangan” itu punya nilai positif. Kami dibiasakan untuk melihat
persoalan kampus secara seimbang. Tidak memihak pada kepentingan kelompok atau
organisasi ekstra kampus tertentu. Namun, di sisi lain ruang ekspresi jadi
sangat terbatas. Kami butuh ruang yang lebih luas, bukan hanya di HMJ atau UKM,
kami ingin mengenal politik kampus. Pikir kami: kalau mahasiswa belum tahu
politik belum jadi mahasiswa. beberapa orang akhirnya memang bergabung dengan
organisasi ekstra kampus.
Dunia
mahasiswa dan dunia politik seharusnya bukan dunia yang terpisah. Kita tidak
dapat memisahkan antara pendidikan dan lingkungan sosial karena keduanya, pada
hakekatnya, seperti tanaman dan substrat dimaan ia tumbuh dan mendapatkan
kehidupan. Mahasiswa kerap disebut sosok manusia setengah dewa. Di pundaknya
tergantung banyak harapan sebagai agen perubahan, penuh idealisme, kreatif, dan
inovattif.
Tetapi
di sisi lain mereka sering “dihujat” karena ulah mereka: perilaku hura-hura,
cuek, nakal, konsumtif, bahkan alay. Dalam politik –khususnya di kampus dulu-
mahasiswa lebih banyak diposisikan sebagai target/obyek (direkrut untuk
menambah jumlah anggota, dimobilisasi untuk demonstrasi, dll). Sedikit yang
diperlakukan sebagai subyek (berapa organisasi ekstra kampus yang pernah survei
apa kebutuhan mahasiswa? berapa banyak kebijakan kampus yang pro-mahasiswa?,
dll).
Rosihan
Anwar menulis dalam buku Musim Berganti, dialog antara seorang mahasiswa
Belanda denga Bung Karno: "Tuan, saya lihat tuan telah membaca semua buku
yang tuan pesan dengan sungguh-sungguh sekali . Mengapa tuan belajar begitu
giat?"
Bung
Karno menjawab: "Orang muda, saya harus belajar giat sekali karena, Insya
Allah, saya akan menjadi presiden di negeri ini".
Dialog
di atas terjadi di rumah pembuangan Bung Karno di Bengkulu, tahun 1938. Di sini
saya ingin menunjukan bahwa mahasiswa adalah jenis yang istimewa. Secara
biologis istimewa, mereka ada pada lapisan umur yang cocok untuk menjadi
pelopor perbaikan keadaan.
Secara
sosial, mahasiswa memperoleh status istimewa dan menikmati fasilitas istimewa.
Terlebih kurikulum pendidikan tinggi dirancang
untuk mendidik mahasiswa menjadi calon pemimpin. Lulusan perguruan
tinggi bukan calon “klerk”. (Mas’oed, 2003:184)
Mahasiswa
tak selamanya tinggal di kampus. Kemudian mereka akan lulus dan kembali ke
masyarakat. Saya kira ada dua peran pokok lulusan perguruan tinggi di
masyarakat. pertama, sebagai manager atau kedua, sebagai pencetus gagasan. Yang
pertama lebih berorientasi pada tindakan, lebih menekankan masalah “how to get
things done”. Sementara yang kedua berorientasi pada kegiatan pemikiran, yaitu
menekankan pada kerja “asah otak” untuk melahirkan kemungkinan alternatif.
Kalau
pean pertama lebih memerlukan bekal keilmuan yang menunjang penyelesaian masalah
dalam suatu bidang dan ilmu-ilmu manajemen dan bersifat teknokratis, peran
kedua lebih memerlukan bekal keilmuan yang mengutamakan kontemplasi.
Bung
Karno adalah pribadi yang menggabungkan kedua fungsi tersebut. Ia tak hanya
mencetuskan gagasan yang dituangkan dalam berbagai tulisan, tetapi
menerapkannya melalui organisasi-organisasi yang dipimpinnya.
Baik
fungsi manager atau pencetus gagasan memerlukan syarat utama, yaitu belajar
bermasyarakat. Utamanya belajar memimpin masyarakat. Belajar menyelesaikan
masalah-masalah kemasyarakatan pada dasarnya belajar berpolitik.
Tahapan Berpolitik dan
Tipe Mahasiswa
Pada
tahap awal belajar berpolitik, mungkin hanya menjadi spectator politic atau
attentive public. Selanjutnya menjadi actor politic.
Menjadi
aktor politik berarti kita aktif dalam sistem politik. Bagaimana merumuskan
persoalan dan tuntutan, mengelolanya sampai menjadi usulan kebijaksanaan. Dan
bagaimana mempengaruhi pelaku politik lain untuk mendukung kebijaksanaan itu.
Belajar
menjadi aktor politik diarahkan untuk menjadi warganegara yang aktif dan
kritis, tetapi juga patuh aturan. Di sini kita tidak hanya diajari bagaimana
“berkelahi” memperjuangkan pendapat dalam proses pembuatan aturan main, tetapi
juga diajari bagaimana mematuhi aturan main yang sudah diputuskan bersama.
Pada
tahapan selanjutnya, para pelaja rpolitik akan mengembangkan kemampuan
mendesain aturan main atau kerangka politik untuk mencapai tujuan
tertentu.Dalam pencapaian tujuan apapun: sosial, kultural, ekonomi, dan tentu
sjaa politik diperlukan kerangka politik yang mampu mengerahkan sebanyak
mungkin dukungan anggota masyarakat bagi pencapaian tujuan itu.
Sekarang
yang jadi masalahnya adalah mahasiswa cenderung tidak diajari bagaiamana
berpolitik secara tepat (bagaimana berdiskusi yang baik, bagaimana
menerimaperbedaan, bagaimana bertoleransi dengan keberagaman, bagaimana
bertanggung jawab dalam menggunakan fasilitas publik, dll). Akibatnya, banyak
mahasiswa yang merasa dirinya tidak bermakna dalam politik. Sebagian cenderung
tidak punya “greget” untuk memikirkan kehidupan politik. Dalam beberapa hal
nampak jelas berkembang sinisme dan apatisme.
Memang
tipe mahasiswa sekarang sangat beragam. Diperlukan pendekatan berbeda pula guna
menumbuhkan minat berpolitik dan beraktivitas politik.
Mahasiswa
makin cerdas dan rasional. ditunjang dengan bermacam-macam kecanggihan gadget,
perlu redefinisi pemaknaan politik yang lebih “membumi, yang terkait pemenuhan
kebutuhan hidup sehari-hari.
Sedikitnya
ada 4 tipe kelompok mahasiswa. Pertama kelompok hura-hura. Kelompok ini
menghabiskan sebagian besar waktunya untuk berpesta dan “dugem”. Kedua,
kelompok hore-hore yang aktif dalam berbagai aktivitas sebagai penggembira.
Ketiga, kelompok huru-hara, yang sering jadi biang kerok tawuran. Dan, keempat
kelompok hiri-hiri, yaitu kelompok mahasiswa yang hanya fokus pada urusan
belajarnya sendiri, sehingga hanya mengenal ruang belajar, ruang peprustakaan,
tempat kost, dan sekitarnya. (Muttaqin,
2009).
Kampus
adalah kawah candradimuka bagi lahirnya pemimin-pemimpin Indonesia masa depan.
Masa depan Indonesia tidak bisa kita percayakan kepada textbook ideologi
apapun. Sains dan vis kenegarawanan adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan
dan menjadi kebutuhan kita saat ini.
Selamat
berpolitik!
Mahasiswa
Pascasarjana Universitas Diponegoro
Anggota
Komunitas Anak Tangga UIN Bandung
0 komentar:
Posting Komentar