Sinergi Berkarya

Senin, 20 April 2015

Ketika Informasi di Tangan Pemilik Media

Oleh: Jinan Vania Barizky

Menjadi seorang jurnalis tentu merupakan pekerjaan yang mulia. Dengan memberikan infotmasi aktual kepada masyarakat setiap waktunya, secara tidak langsung seorang jurnalis telah membantu sesama. Entah melalui media cetak ataupun media informasi lainnya. Sayangnya saat ini dalam melakoni pekerjaan menjadi seorang jurnalis ‘campur tangan’ dari pemilik media sangat terasa. Orang-orang yang bekerja dan mempelajari bidang jurnalis pasti pernah mendengar kata ‘Konglomerasi media’. Mendengar kata konglomerasi media yang terbersit dalam pikiran  adalah adanya ‘campur tangan’ demi sebuah kepentingan.
Matahari yang semula cerah berganti dengan suasana gelap mendung yang datang. Saat ini kami KAT (komunitas anak tangga) salah satu komunitas di jurusan Jurnalistik UIN Sunan Gunung Djati Bandung sedang menunggu salah satu narasumber yang akan menceritakan pengalamannya bekerja didunia kejurnalistikan. DPR (dibawah pohon rindang) sebuah lokasi yang bertepatan di dekat dua fakultas yaitu fakultas tarbiah dan fakultas dakwah, seorang pria yang kami tunggu sebagai narasumberpun tiba. Pak Atep, dia seseorang yang akan berbagi ilmu dan cerita mengenai pekerjaan di bidang jurnalistik dan akan menyinggung mengenai konglomerasi media.
“Jalanan macet karena sudah sore” ujar pak atep ketika sampai. Dia sebenarnya bukan berasal dari jurusan Jurnalistik. Dia merupakan lulusan dari Universitas Padjadjaran Bandung jurusan Sastra Sunda. Awal karir dia di dunia kejurnalistikan dimulai ketika bekerja disalah satu media cetak, Koran Sunda. Masih ada hubungannya dengan jurusan yang ambil yaitu Sastra Sunda sehingga dalam melakukan pekerjaan tersebut dia melakukannya dengan senang. “ ketika itu pembaca Koran sunda pun terbilang banyak tetapi sayangnya Koran sunda hanya berlangsung selama dua tahun, ketika itu Koran sunda tiba-tiba ditutup tanpa penjelasan yang di berikan, ketika itu saya masih belum paham sekali yang telah terjadi saat itu” ujarnya. “ternyata di balik ditutupnya Koran sunda terdapat Konglomerasi media” lanjutnya.
Kemudian ia beralih ke  Koran Sindo, Ketika dia bekerja di Koran Sindo disitulah dia merasakan bahwa peran pemilik media itu sangat terasa. Ketika waktu tiba untuk rolling posisi bekerja untuk ditempatkan. Jelas dari beberapa tempat itu ditempatkan di bagian pemerintahan itu sangat ‘menjanjikan’. Ketika itu ia mendapatkan sebuah pesan mengenai perihal rolling tersebut tetapi ada yang aneh dari pesan yang dia dapatkan. Ketika itu berbicara mengenai rolling tempat tersebut yang bisa ‘nego’. “ disitu saya sebenarnya mengerti maksud dari pesan tersebut tetapi saya membalasnya maksud nego tersebut apa ” ujarnya.
Akhirnya dia di tempatkan di bagian kabupaten bandung dimana bagian tersebut bisa dibilang yang paling banyak dihindari, setelah itu dia terus mendapatkan berbagai macam tekanan yang menurut dia sudah tidak sejalan dengan etika berjurnalis. “ sampai seorang pemred pun sudah ikut masuk kedalamnya” ujar dia. “Jika media informasi hanya untuk mencari sebuah keuntungan mengapa tidak sekalian saja berubah menjadi advertising, disitu jelas pasti akan mendapat keuntungan” tgas Atep. Karena banyak tekanan tersebut dan menurut dia sudah keluar dari jalurnya sebagai jurnalis akhirnya dia mengundurkan diri.
Setelah keluar tersebut dia bergabung bekerja di salah satu media pemerintahan. Menurut dia bekerja di pemerintahan tidak sulit karena bekerja di pemerintahan, lebih memberitakan kepada program kerja pemerintahan tersebut. Karena gaya penulisan yang terbiasa pencitraan kemudian di kerjakan oleh seorang jurnalis seperti dia banyak respon positif untuk media pemerintahan tersebut. “ karena tidak mendapat tantangan dan bosan akhirnya saya keluar” ujar Pak Atep setelah itu dia bergabung dengan Kabar Rakyat salah satu media online baru, yang baru berjalan sekitar 3 bulan.

“media saat ini digunakan sebagai industry bisnis.” Jelas dia. Kemudian timbullah pertanyaan jika begitu apakah konglomerasi media yang terjadi pada pekerjaan jurnalis ini berdampak positif atau negatifkah? “ konglomerasi media tidak bisa dipandang sebagai sesuatu yang haram, tetapi terdapat pengaruh negative yang merusak etika jurnalisme solusi menghadapi haltersebut ialah dengan JUJUR dan tidak adanya bisnis dalam sebuah media adanya nilai-nilai jurnaliseme yang membentengi konglomerasi media ini, danitupun harus adanya komitmen dari wartawan itu sendiri karena tidak ada ideal dari sebuah media karena akan menjadi sebuah industry bisnis.” Jelas dia menanggapi salah satu pertanyaan anggota KAT. 

0 komentar:

Posting Komentar