Oleh: Jinan Vania Barizky
Menjadi seorang jurnalis tentu merupakan pekerjaan yang mulia. Dengan memberikan infotmasi aktual kepada masyarakat setiap waktunya, secara tidak langsung seorang jurnalis telah membantu sesama. Entah melalui media cetak ataupun media informasi lainnya. Sayangnya saat ini dalam melakoni pekerjaan menjadi seorang jurnalis ‘campur tangan’ dari pemilik media sangat terasa. Orang-orang yang bekerja dan mempelajari bidang jurnalis pasti pernah mendengar kata ‘Konglomerasi media’. Mendengar kata konglomerasi media yang terbersit dalam pikiran adalah adanya ‘campur tangan’ demi sebuah kepentingan.
Menjadi seorang jurnalis tentu merupakan pekerjaan yang mulia. Dengan memberikan infotmasi aktual kepada masyarakat setiap waktunya, secara tidak langsung seorang jurnalis telah membantu sesama. Entah melalui media cetak ataupun media informasi lainnya. Sayangnya saat ini dalam melakoni pekerjaan menjadi seorang jurnalis ‘campur tangan’ dari pemilik media sangat terasa. Orang-orang yang bekerja dan mempelajari bidang jurnalis pasti pernah mendengar kata ‘Konglomerasi media’. Mendengar kata konglomerasi media yang terbersit dalam pikiran adalah adanya ‘campur tangan’ demi sebuah kepentingan.
Matahari
yang semula cerah berganti dengan suasana gelap mendung yang datang. Saat ini
kami KAT (komunitas anak tangga) salah satu komunitas di jurusan Jurnalistik
UIN Sunan Gunung Djati Bandung sedang menunggu salah satu narasumber yang akan
menceritakan pengalamannya bekerja didunia kejurnalistikan. DPR (dibawah pohon
rindang) sebuah lokasi yang bertepatan di dekat dua fakultas yaitu fakultas
tarbiah dan fakultas dakwah, seorang pria yang kami tunggu sebagai
narasumberpun tiba. Pak Atep, dia seseorang yang akan berbagi ilmu dan cerita
mengenai pekerjaan di bidang jurnalistik dan akan menyinggung mengenai
konglomerasi media.
“Jalanan
macet karena sudah sore” ujar pak atep ketika sampai. Dia sebenarnya bukan
berasal dari jurusan Jurnalistik. Dia merupakan lulusan dari Universitas
Padjadjaran Bandung jurusan Sastra Sunda. Awal karir dia di dunia
kejurnalistikan dimulai ketika bekerja disalah satu media cetak, Koran Sunda. Masih ada hubungannya
dengan jurusan yang ambil yaitu Sastra Sunda sehingga dalam melakukan pekerjaan
tersebut dia melakukannya dengan senang. “ ketika itu pembaca Koran sunda pun
terbilang banyak tetapi sayangnya Koran sunda hanya berlangsung selama dua
tahun, ketika itu Koran sunda tiba-tiba ditutup tanpa penjelasan yang di
berikan, ketika itu saya masih belum paham sekali yang telah terjadi saat itu”
ujarnya. “ternyata di balik ditutupnya Koran sunda terdapat Konglomerasi media”
lanjutnya.
Kemudian
ia beralih ke Koran Sindo, Ketika dia bekerja di Koran
Sindo disitulah dia merasakan bahwa peran pemilik media itu sangat terasa. Ketika
waktu tiba untuk rolling posisi
bekerja untuk ditempatkan. Jelas dari beberapa tempat itu ditempatkan di bagian
pemerintahan itu sangat ‘menjanjikan’. Ketika itu ia mendapatkan sebuah pesan
mengenai perihal rolling tersebut
tetapi ada yang aneh dari pesan yang dia dapatkan. Ketika itu berbicara
mengenai rolling tempat tersebut yang
bisa ‘nego’. “ disitu saya sebenarnya mengerti maksud dari pesan tersebut
tetapi saya membalasnya maksud nego tersebut apa ” ujarnya.
Akhirnya
dia di tempatkan di bagian kabupaten bandung dimana bagian tersebut bisa
dibilang yang paling banyak dihindari, setelah itu dia terus mendapatkan
berbagai macam tekanan yang menurut dia sudah tidak sejalan dengan etika
berjurnalis. “ sampai seorang pemred pun sudah ikut masuk kedalamnya” ujar dia.
“Jika media informasi hanya untuk mencari sebuah keuntungan mengapa tidak
sekalian saja berubah menjadi advertising, disitu jelas pasti akan mendapat
keuntungan” tgas Atep. Karena banyak tekanan tersebut dan menurut dia sudah
keluar dari jalurnya sebagai jurnalis akhirnya dia mengundurkan diri.
Setelah
keluar tersebut dia bergabung bekerja di salah satu media pemerintahan. Menurut
dia bekerja di pemerintahan tidak sulit karena bekerja di pemerintahan, lebih
memberitakan kepada program kerja pemerintahan tersebut. Karena gaya penulisan
yang terbiasa pencitraan kemudian di kerjakan oleh seorang jurnalis seperti dia
banyak respon positif untuk media pemerintahan tersebut. “ karena tidak
mendapat tantangan dan bosan akhirnya saya keluar” ujar Pak Atep setelah itu dia
bergabung dengan Kabar Rakyat salah satu media online baru, yang baru berjalan
sekitar 3 bulan.
“media
saat ini digunakan sebagai industry bisnis.” Jelas dia. Kemudian timbullah
pertanyaan jika begitu apakah konglomerasi media yang terjadi pada pekerjaan
jurnalis ini berdampak positif atau negatifkah? “ konglomerasi media tidak bisa
dipandang sebagai sesuatu yang haram, tetapi terdapat pengaruh negative yang
merusak etika jurnalisme solusi menghadapi haltersebut ialah dengan JUJUR dan
tidak adanya bisnis dalam sebuah media adanya nilai-nilai jurnaliseme yang
membentengi konglomerasi media ini, danitupun harus adanya komitmen dari
wartawan itu sendiri karena tidak ada
ideal dari sebuah media karena akan menjadi sebuah industry bisnis.” Jelas dia
menanggapi salah satu pertanyaan anggota KAT.
0 komentar:
Posting Komentar