Sinergi Berkarya

Sabtu, 21 Maret 2015

Komunitas Anak Tangga: Memanjangkan Barisan Pejuang Literasi

Oleh : Faisal Hatami

Tulisan ini berawal dari kedatangan sekelompok anak muda di rumah saya, Sabtu-Minggu (14-15 Februari 2015).  Mereka adalah bagian dari Komunitas Anak Tangga (KAT), sebuah komunitas literasi, dan telah aktif di lingkungan kampus UIN Bandung sejak tiga tahun silam. Dinamakan “Malam Keakraban”, acara kami mulai dengan pembicaraan yang rumit seputar KAT.
Ide pokok yang melandasi acara ini sederhana: kami merasa perlu mendekatkan diri satu sama lain. Membicarakan kembali arah tujuan komunitas secara lebih mendalam. Rasanya tidak berlebihan jika dikatakan bahwa inilah untuk pertama kalinya kegiatan ini dilakukan dalam sejarah KAT: merumuskan berbagai gagasan di seputar literasi secara terbuka, dengan perincian dan percabangan masing-masing.
Syarat bagi suatu bangsa untuk maju dan berkembang adalah adanya masyarakat pembelajar. Salah satu basis dukungan terpenting bagi terbentuknya masyarakat pembelajar adalah masyarakat yang gemar membaca.
Publik nampaknya mulai mengerti hal itu. Maraknya gerakan membaca (dan menulis) yang diprakarsai oleh individu, kelompok masyarakat, media, lembaga pemerintah, maupun institusi bisnis. Mulai dari pameran buku yang diselenggarakan lebih dari dua kali dalam setahun, pelatihan menulis, peluncuran dan diskusi buku, munculnya rubrik perbukuan di koran, pemilihan duta baca, hingga pendirian perpustakaan warga yang kini lebih familiar disebut komunitas literasi.
Literasi (keberaksaraan) tidak semata-mata mencakup persoalan membaca dan menulis, namun bergandengan pula dengan aspek lain, seperti ekonomi, politik, hukum, pendidikan, sejarah, teknologi, dan gaya hidup (Putut Laxman Pendit ; 2007).
Literasi dikatakan menjadi kunci untuk membuka pintu bagi datangnya modernisasi, partisipasi, empati, demokratisasi, desentralisasi ilmu pengetahuan, perbaikan taraf hidup terutama ekonomi, dan kemajuan suatu bangsa. Laporan UNESCO di tahun 2005 menyebutkan adanya hubungan erat antara illiteracy (ketidakberaksaraan) dengan kemiskinan.
Literasi tidak semata-mata buku karena ia tidak hidup di ruang hampa udara. Sebaliknya, literasi berjalin erat dengan kehidupan. Bentangan pembicaraan tentang literasi pun menjadi dinamis, sedinamis kehidupan itu sendiri.
Program kerja Komunitas Anak Tangga sendiri tidak melulu membaca buku. Tapi bukan berarti menekuni buku sama sekali ditinggalkan. Membaca buku harus tetap menjadi aktivitas inti, hanya saja perspektifnya diperluas. Aktivitas membaca ditafsirkan secara luas. Tidak sebatas teks (buku), tapi juga konteks (kehidupan).
Komunitas Anak Tangga diharapkan dapat menjadi komunitas literasi yang menumbuhkan partisipasi dan empati. Keberaksaraan mengandaikan adanya individualisme kebudayaan (Ignas Kleden ; 1999). Yaitu, kesanggupan untuk masuk ke dalam dunia diri (kontemplasi) menyendiri setelah berkutat dalam kesibukan di dunia luar. Proses yang memerlukan kehati-hatian, sebab bisa saja tergelincir pada individualisme dalam bentuknya yang paling konservatif; egois, tertutup, terasing, dan tercerabut dari akar lingkungannya.
Saya pikir ada baiknya KAT mengambil jarak dengan perkembangan dan persoalan yang terjadi di kampus UIN. Keberjarakan ini penting agar KAT bisa dengan jernih memetakan persoalan, sekaligus merumuskan cita-cita atau solusi atas keberagaman persoalan itu. Dengan berada di luar arena –tidak menjadi bagian dari persoalan dan tidak mengalami konflik kepentingan untuk sementara waktu- KAT bisa mengkritik pedas.
Kreativitas, menurut Rendra, memiliki tiga syarat utama. Pertama, cinta kasih, kedua, keterlibatan, da ketiga, harus sesuai dengan nilai-nilai universal. Cinta kasih itu penting, tapi belum cukup. Simpati baru merupakan potensi, belum menghasilkan nilai apapun sampai ia mampu terwujud menjadi empati, berupa tindakan.
Keterlibatan yang mendalam akan membentuk paradigma, yaitu, cara pandang seseorang mengenai kenyataan hidup dan pengalaman yang telah ia akrabi. Boleh jadi kita menjalani banyak waktu kehidupan dengan peran sama, misalnya menjadi guru, dosen, jurnalis, atau pedagang. Namun, saat dimintai pendapat apa yang kita alami, ceritanya pasti berbeda.
Cinta kasih dan keterlibatan belum cukup. Keduanya harus sesuai dengan nilai-nilai universal. Wujudnya beragam, dapat berupa kejujuran, kesabaran, sikap pantang menyerah, sungguh-sungguh, dan sifat suci (noble) lainnya. Gabungan ketiganya –cinta kasih, keterlibatan, dan nilai-nilai universal- oleh Rendra diikat ke dalam satu kalimat; Masuk dalam kontekstualitas sambil meraih ridha Allah.



0 komentar:

Posting Komentar