Oleh : Faisal Hatami
Tulisan
ini berawal dari kedatangan sekelompok anak muda di rumah saya, Sabtu-Minggu
(14-15 Februari 2015). Mereka adalah
bagian dari Komunitas Anak Tangga (KAT), sebuah komunitas literasi, dan telah
aktif di lingkungan kampus UIN Bandung sejak tiga tahun silam. Dinamakan “Malam
Keakraban”, acara kami mulai dengan pembicaraan yang rumit seputar KAT.
Ide
pokok yang melandasi acara ini sederhana: kami merasa perlu mendekatkan diri
satu sama lain. Membicarakan kembali arah tujuan komunitas secara lebih
mendalam. Rasanya tidak berlebihan jika dikatakan bahwa inilah untuk pertama
kalinya kegiatan ini dilakukan dalam sejarah KAT: merumuskan berbagai gagasan
di seputar literasi secara terbuka, dengan perincian dan percabangan
masing-masing.
Syarat
bagi suatu bangsa untuk maju dan berkembang adalah adanya masyarakat
pembelajar. Salah satu basis dukungan terpenting bagi terbentuknya masyarakat
pembelajar adalah masyarakat yang gemar membaca.
Publik
nampaknya mulai mengerti hal itu. Maraknya gerakan membaca (dan menulis) yang
diprakarsai oleh individu, kelompok masyarakat, media, lembaga pemerintah, maupun
institusi bisnis. Mulai dari pameran buku yang diselenggarakan lebih dari dua
kali dalam setahun, pelatihan menulis, peluncuran dan diskusi buku, munculnya
rubrik perbukuan di koran, pemilihan duta baca, hingga pendirian perpustakaan
warga yang kini lebih familiar disebut komunitas literasi.
Literasi
(keberaksaraan) tidak semata-mata mencakup persoalan membaca dan menulis, namun
bergandengan pula dengan aspek lain, seperti ekonomi, politik, hukum,
pendidikan, sejarah, teknologi, dan gaya hidup (Putut Laxman Pendit ; 2007).
Literasi
dikatakan menjadi kunci untuk membuka pintu bagi datangnya modernisasi,
partisipasi, empati, demokratisasi, desentralisasi ilmu pengetahuan, perbaikan
taraf hidup terutama ekonomi, dan kemajuan suatu bangsa. Laporan UNESCO di
tahun 2005 menyebutkan adanya hubungan erat antara illiteracy
(ketidakberaksaraan) dengan kemiskinan.
Literasi
tidak semata-mata buku karena ia tidak hidup di ruang hampa udara. Sebaliknya,
literasi berjalin erat dengan kehidupan. Bentangan pembicaraan tentang literasi
pun menjadi dinamis, sedinamis kehidupan itu sendiri.
Program
kerja Komunitas Anak Tangga sendiri tidak melulu membaca buku. Tapi bukan berarti
menekuni buku sama sekali ditinggalkan. Membaca buku harus tetap menjadi
aktivitas inti, hanya saja perspektifnya diperluas. Aktivitas membaca
ditafsirkan secara luas. Tidak sebatas teks (buku), tapi juga konteks
(kehidupan).
Komunitas
Anak Tangga diharapkan dapat menjadi komunitas literasi yang menumbuhkan
partisipasi dan empati. Keberaksaraan mengandaikan adanya individualisme
kebudayaan (Ignas Kleden ; 1999). Yaitu, kesanggupan untuk masuk ke dalam dunia
diri (kontemplasi) menyendiri setelah berkutat dalam kesibukan di dunia luar.
Proses yang memerlukan kehati-hatian, sebab bisa saja tergelincir pada
individualisme dalam bentuknya yang paling konservatif; egois, tertutup,
terasing, dan tercerabut dari akar lingkungannya.
Saya
pikir ada baiknya KAT mengambil jarak dengan perkembangan dan persoalan yang
terjadi di kampus UIN. Keberjarakan ini penting agar KAT bisa dengan jernih
memetakan persoalan, sekaligus merumuskan cita-cita atau solusi atas
keberagaman persoalan itu. Dengan berada di luar arena –tidak menjadi bagian
dari persoalan dan tidak mengalami konflik kepentingan untuk sementara waktu-
KAT bisa mengkritik pedas.
Kreativitas,
menurut Rendra, memiliki tiga syarat utama. Pertama, cinta kasih, kedua,
keterlibatan, da ketiga, harus sesuai dengan nilai-nilai universal. Cinta kasih
itu penting, tapi belum cukup. Simpati baru merupakan potensi, belum
menghasilkan nilai apapun sampai ia mampu terwujud menjadi empati, berupa
tindakan.
Keterlibatan
yang mendalam akan membentuk paradigma, yaitu, cara pandang seseorang mengenai
kenyataan hidup dan pengalaman yang telah ia akrabi. Boleh jadi kita menjalani
banyak waktu kehidupan dengan peran sama, misalnya menjadi guru, dosen,
jurnalis, atau pedagang. Namun, saat dimintai pendapat apa yang kita alami,
ceritanya pasti berbeda.
Cinta
kasih dan keterlibatan belum cukup. Keduanya harus sesuai dengan nilai-nilai
universal. Wujudnya beragam, dapat berupa kejujuran, kesabaran, sikap pantang
menyerah, sungguh-sungguh, dan sifat suci (noble) lainnya. Gabungan ketiganya
–cinta kasih, keterlibatan, dan nilai-nilai universal- oleh Rendra diikat ke
dalam satu kalimat; Masuk dalam kontekstualitas sambil meraih ridha Allah.
0 komentar:
Posting Komentar