Sinergi Berkarya

Jumat, 01 Mei 2015

Komunitas Anak Tangga

Tahun 2011, sekelompok mahasiswa Ilmu Komunikasi UIN Bandung berkumpul, merancang bentuk aktivitas yang merangsang nilai-nilai intelektual berkembang. Sementara kehidupan kampus saat itu begitu kering.  Dimotori oleh Indra Nugraha, Anan Suryana, Faisal Hatami, Adhi Muhammad, Susanti Fitri, Annisa, Gilang Ramadhan, Ade Lukman, dan generasi pertama  lainnya, terbentuklah Study Club Komunitas Anak Tangga (KAT). Indra Nugraha terpilh sebagai ketua pertama.
Meski sudah beroperasi sejak pertengahan 2011, komunitas baru resmi di-proklamirkan di penghujung tahun 2011. Tepatnya tanggal 13 November 2011. Komunitas Anak Tangga tidak bermaksud untuk membuat kultur baru dan atau menghilangkan kultur lama. Tetapi KAT berupaya memperlihatkan bahwa “kita dapat melampaui kultur generasi-generasi yang sudah lewat”.
Diskusi merupakan pokok kegiatan komunitas. Tujuannya supaya para anggota terbiasa mengungkapkan ide, gagasan, dan pikiran-pikirannya secara jujur dan terbuka. Selain itu agar tumbuh keberanian untuk tampil berbicara di depan publik. Diskusi Komunitas Anak Tangga bersifat artes liberales. Membebaskan pesertanya dari kebodohan dan kepicikan melalui pengembangan intelektual sehingga peserta menjadi manusia yang rasional, kritis, berwawasan luas, mampu bergaul secara manusiawi, cerdas, dan arif dalam membuat keputusan yang adil. Dengan begitu peserta menemukan bentuk kemanusiaannya yang benar, kodrat manusia yang real dan asli.
Komunitas Anak Tangga pun diharapkan dapat menjadi komunitas literasi yang menumbuhkan partisipasi dan empati. Program literasi Komunitas Anak Tangga sendiri tidak melulu membaca buku. Tapi bukan berarti menekuni buku sama sekali ditinggalkan. Membaca buku harus tetap menjadi aktivitas inti, hanya saja perspektifnya diperluas. Aktivitas membaca ditafsirkan secara luas. Tidak sebatas teks (buku), tapi juga konteks (kehidupan).

Seiring waktu berjalan, kini alumni, anggota Komunitas Anak Tangga tersebar di berbagai bidang kehidupan sosial. Jurnalis, aktivis, akademisi, guru, dan bidang sosial lainnya. Tentu ini menjadi kebanggaan bagi Keluarga Besar Komunitas Anak Tangga. Melalui komunitas yang berawal dari diskusi kecil bisa melahirkan manusia-manusia otonom, kreatif, dan memiliki intelektualitas serta berjiwa sosial.

Senin, 20 April 2015

Ketika Informasi di Tangan Pemilik Media

Oleh: Jinan Vania Barizky

Menjadi seorang jurnalis tentu merupakan pekerjaan yang mulia. Dengan memberikan infotmasi aktual kepada masyarakat setiap waktunya, secara tidak langsung seorang jurnalis telah membantu sesama. Entah melalui media cetak ataupun media informasi lainnya. Sayangnya saat ini dalam melakoni pekerjaan menjadi seorang jurnalis ‘campur tangan’ dari pemilik media sangat terasa. Orang-orang yang bekerja dan mempelajari bidang jurnalis pasti pernah mendengar kata ‘Konglomerasi media’. Mendengar kata konglomerasi media yang terbersit dalam pikiran  adalah adanya ‘campur tangan’ demi sebuah kepentingan.
Matahari yang semula cerah berganti dengan suasana gelap mendung yang datang. Saat ini kami KAT (komunitas anak tangga) salah satu komunitas di jurusan Jurnalistik UIN Sunan Gunung Djati Bandung sedang menunggu salah satu narasumber yang akan menceritakan pengalamannya bekerja didunia kejurnalistikan. DPR (dibawah pohon rindang) sebuah lokasi yang bertepatan di dekat dua fakultas yaitu fakultas tarbiah dan fakultas dakwah, seorang pria yang kami tunggu sebagai narasumberpun tiba. Pak Atep, dia seseorang yang akan berbagi ilmu dan cerita mengenai pekerjaan di bidang jurnalistik dan akan menyinggung mengenai konglomerasi media.
“Jalanan macet karena sudah sore” ujar pak atep ketika sampai. Dia sebenarnya bukan berasal dari jurusan Jurnalistik. Dia merupakan lulusan dari Universitas Padjadjaran Bandung jurusan Sastra Sunda. Awal karir dia di dunia kejurnalistikan dimulai ketika bekerja disalah satu media cetak, Koran Sunda. Masih ada hubungannya dengan jurusan yang ambil yaitu Sastra Sunda sehingga dalam melakukan pekerjaan tersebut dia melakukannya dengan senang. “ ketika itu pembaca Koran sunda pun terbilang banyak tetapi sayangnya Koran sunda hanya berlangsung selama dua tahun, ketika itu Koran sunda tiba-tiba ditutup tanpa penjelasan yang di berikan, ketika itu saya masih belum paham sekali yang telah terjadi saat itu” ujarnya. “ternyata di balik ditutupnya Koran sunda terdapat Konglomerasi media” lanjutnya.
Kemudian ia beralih ke  Koran Sindo, Ketika dia bekerja di Koran Sindo disitulah dia merasakan bahwa peran pemilik media itu sangat terasa. Ketika waktu tiba untuk rolling posisi bekerja untuk ditempatkan. Jelas dari beberapa tempat itu ditempatkan di bagian pemerintahan itu sangat ‘menjanjikan’. Ketika itu ia mendapatkan sebuah pesan mengenai perihal rolling tersebut tetapi ada yang aneh dari pesan yang dia dapatkan. Ketika itu berbicara mengenai rolling tempat tersebut yang bisa ‘nego’. “ disitu saya sebenarnya mengerti maksud dari pesan tersebut tetapi saya membalasnya maksud nego tersebut apa ” ujarnya.
Akhirnya dia di tempatkan di bagian kabupaten bandung dimana bagian tersebut bisa dibilang yang paling banyak dihindari, setelah itu dia terus mendapatkan berbagai macam tekanan yang menurut dia sudah tidak sejalan dengan etika berjurnalis. “ sampai seorang pemred pun sudah ikut masuk kedalamnya” ujar dia. “Jika media informasi hanya untuk mencari sebuah keuntungan mengapa tidak sekalian saja berubah menjadi advertising, disitu jelas pasti akan mendapat keuntungan” tgas Atep. Karena banyak tekanan tersebut dan menurut dia sudah keluar dari jalurnya sebagai jurnalis akhirnya dia mengundurkan diri.
Setelah keluar tersebut dia bergabung bekerja di salah satu media pemerintahan. Menurut dia bekerja di pemerintahan tidak sulit karena bekerja di pemerintahan, lebih memberitakan kepada program kerja pemerintahan tersebut. Karena gaya penulisan yang terbiasa pencitraan kemudian di kerjakan oleh seorang jurnalis seperti dia banyak respon positif untuk media pemerintahan tersebut. “ karena tidak mendapat tantangan dan bosan akhirnya saya keluar” ujar Pak Atep setelah itu dia bergabung dengan Kabar Rakyat salah satu media online baru, yang baru berjalan sekitar 3 bulan.

“media saat ini digunakan sebagai industry bisnis.” Jelas dia. Kemudian timbullah pertanyaan jika begitu apakah konglomerasi media yang terjadi pada pekerjaan jurnalis ini berdampak positif atau negatifkah? “ konglomerasi media tidak bisa dipandang sebagai sesuatu yang haram, tetapi terdapat pengaruh negative yang merusak etika jurnalisme solusi menghadapi haltersebut ialah dengan JUJUR dan tidak adanya bisnis dalam sebuah media adanya nilai-nilai jurnaliseme yang membentengi konglomerasi media ini, danitupun harus adanya komitmen dari wartawan itu sendiri karena tidak ada ideal dari sebuah media karena akan menjadi sebuah industry bisnis.” Jelas dia menanggapi salah satu pertanyaan anggota KAT. 

Sabtu, 21 Maret 2015

Mahasiswa dan Politik

Oleh : Faisal Hatami

Tahun pertama kuliah, kami di wanti-wanti supaya menghindari politik praktis. Dengan masuk menjadi anggota organisasi ekstra kampus. Alasannya sederhana: independensi.
Di satu sisi, “pelarangan” itu punya nilai positif. Kami dibiasakan untuk melihat persoalan kampus secara seimbang. Tidak memihak pada kepentingan kelompok atau organisasi ekstra kampus tertentu. Namun, di sisi lain ruang ekspresi jadi sangat terbatas. Kami butuh ruang yang lebih luas, bukan hanya di HMJ atau UKM, kami ingin mengenal politik kampus. Pikir kami: kalau mahasiswa belum tahu politik belum jadi mahasiswa. beberapa orang akhirnya memang bergabung dengan organisasi ekstra kampus.
Dunia mahasiswa dan dunia politik seharusnya bukan dunia yang terpisah. Kita tidak dapat memisahkan antara pendidikan dan lingkungan sosial karena keduanya, pada hakekatnya, seperti tanaman dan substrat dimaan ia tumbuh dan mendapatkan kehidupan. Mahasiswa kerap disebut sosok manusia setengah dewa. Di pundaknya tergantung banyak harapan sebagai agen perubahan, penuh idealisme, kreatif, dan inovattif.
Tetapi di sisi lain mereka sering “dihujat” karena ulah mereka: perilaku hura-hura, cuek, nakal, konsumtif, bahkan alay. Dalam politik –khususnya di kampus dulu- mahasiswa lebih banyak diposisikan sebagai target/obyek (direkrut untuk menambah jumlah anggota, dimobilisasi untuk demonstrasi, dll). Sedikit yang diperlakukan sebagai subyek (berapa organisasi ekstra kampus yang pernah survei apa kebutuhan mahasiswa? berapa banyak kebijakan kampus yang pro-mahasiswa?, dll).
Rosihan Anwar menulis dalam buku Musim Berganti, dialog antara seorang mahasiswa Belanda denga Bung Karno: "Tuan, saya lihat tuan telah membaca semua buku yang tuan pesan dengan sungguh-sungguh sekali . Mengapa tuan belajar begitu giat?"
Bung Karno menjawab: "Orang muda, saya harus belajar giat sekali karena, Insya Allah, saya akan menjadi presiden di negeri ini".
Dialog di atas terjadi di rumah pembuangan Bung Karno di Bengkulu, tahun 1938. Di sini saya ingin menunjukan bahwa mahasiswa adalah jenis yang istimewa. Secara biologis istimewa, mereka ada pada lapisan umur yang cocok untuk menjadi pelopor perbaikan keadaan.
Secara sosial, mahasiswa memperoleh status istimewa dan menikmati fasilitas istimewa. Terlebih kurikulum pendidikan tinggi dirancang  untuk mendidik mahasiswa menjadi calon pemimpin. Lulusan perguruan tinggi bukan calon “klerk”. (Mas’oed, 2003:184)
Mahasiswa tak selamanya tinggal di kampus. Kemudian mereka akan lulus dan kembali ke masyarakat. Saya kira ada dua peran pokok lulusan perguruan tinggi di masyarakat. pertama, sebagai manager atau kedua, sebagai pencetus gagasan. Yang pertama lebih berorientasi pada tindakan, lebih menekankan masalah “how to get things done”. Sementara yang kedua berorientasi pada kegiatan pemikiran, yaitu menekankan pada kerja “asah otak” untuk melahirkan kemungkinan alternatif.
Kalau pean pertama lebih memerlukan bekal keilmuan yang menunjang penyelesaian masalah dalam suatu bidang dan ilmu-ilmu manajemen dan bersifat teknokratis, peran kedua lebih memerlukan bekal keilmuan yang mengutamakan kontemplasi.
Bung Karno adalah pribadi yang menggabungkan kedua fungsi tersebut. Ia tak hanya mencetuskan gagasan yang dituangkan dalam berbagai tulisan, tetapi menerapkannya melalui organisasi-organisasi yang dipimpinnya.
Baik fungsi manager atau pencetus gagasan memerlukan syarat utama, yaitu belajar bermasyarakat. Utamanya belajar memimpin masyarakat. Belajar menyelesaikan masalah-masalah kemasyarakatan pada dasarnya belajar berpolitik.

Tahapan Berpolitik dan Tipe Mahasiswa
Pada tahap awal belajar berpolitik, mungkin hanya menjadi spectator politic atau attentive public. Selanjutnya menjadi actor politic.
Menjadi aktor politik berarti kita aktif dalam sistem politik. Bagaimana merumuskan persoalan dan tuntutan, mengelolanya sampai menjadi usulan kebijaksanaan. Dan bagaimana mempengaruhi pelaku politik lain untuk mendukung kebijaksanaan itu.
Belajar menjadi aktor politik diarahkan untuk menjadi warganegara yang aktif dan kritis, tetapi juga patuh aturan. Di sini kita tidak hanya diajari bagaimana “berkelahi” memperjuangkan pendapat dalam proses pembuatan aturan main, tetapi juga diajari bagaimana mematuhi aturan main yang sudah diputuskan bersama.
Pada tahapan selanjutnya, para pelaja rpolitik akan mengembangkan kemampuan mendesain aturan main atau kerangka politik untuk mencapai tujuan tertentu.Dalam pencapaian tujuan apapun: sosial, kultural, ekonomi, dan tentu sjaa politik diperlukan kerangka politik yang mampu mengerahkan sebanyak mungkin dukungan anggota masyarakat bagi pencapaian tujuan itu.
Sekarang yang jadi masalahnya adalah mahasiswa cenderung tidak diajari bagaiamana berpolitik secara tepat (bagaimana berdiskusi yang baik, bagaimana menerimaperbedaan, bagaimana bertoleransi dengan keberagaman, bagaimana bertanggung jawab dalam menggunakan fasilitas publik, dll). Akibatnya, banyak mahasiswa yang merasa dirinya tidak bermakna dalam politik. Sebagian cenderung tidak punya “greget” untuk memikirkan kehidupan politik. Dalam beberapa hal nampak jelas berkembang sinisme dan apatisme.
Memang tipe mahasiswa sekarang sangat beragam. Diperlukan pendekatan berbeda pula guna menumbuhkan minat berpolitik dan beraktivitas politik.
Mahasiswa makin cerdas dan rasional. ditunjang dengan bermacam-macam kecanggihan gadget, perlu redefinisi pemaknaan politik yang lebih “membumi, yang terkait pemenuhan kebutuhan hidup sehari-hari.
Sedikitnya ada 4 tipe kelompok mahasiswa. Pertama kelompok hura-hura. Kelompok ini menghabiskan sebagian besar waktunya untuk berpesta dan “dugem”. Kedua, kelompok hore-hore yang aktif dalam berbagai aktivitas sebagai penggembira. Ketiga, kelompok huru-hara, yang sering jadi biang kerok tawuran. Dan, keempat kelompok hiri-hiri, yaitu kelompok mahasiswa yang hanya fokus pada urusan belajarnya sendiri, sehingga hanya mengenal ruang belajar, ruang peprustakaan, tempat kost, dan sekitarnya. (Muttaqin, 2009).
Kampus adalah kawah candradimuka bagi lahirnya pemimin-pemimpin Indonesia masa depan. Masa depan Indonesia tidak bisa kita percayakan kepada textbook ideologi apapun. Sains dan vis kenegarawanan adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan dan menjadi kebutuhan kita saat ini.
Selamat berpolitik!
Mahasiswa Pascasarjana Universitas Diponegoro
Anggota Komunitas Anak Tangga UIN Bandung