Oleh: Calam Rahmat
Ini mungkin impian semua warga
Negara yang ada di dunia tak di pungkiri aku juga demikian sebagai warga Negara
Indonesia dari sejak kurang lebih 20 tahun yang lalu, aku terlahir di Indonesia
yang katanya sangat subur dan penuh dengan kemakmuran tapi nyatanya hampir
dimana-mana terlihat kekacauan yang timbul dari kurang nya perhatian pemerintah
terhadap rakyat kecil.
Lagi dan lagi nama pemerintah
tidak bisa dihindari ketika banyak masalah yang terjadi di Indonesia, al hasil
kesalah pahaman masih banyak timbul dan perselisihan semakin bebas, apa lagi
semenjak kebebasan berpendapat itu di perbolehkan sejak tahun 1999 pada saat
itu presiden yang menjabat ialah pak Habibi, sering aku dengar nama itu.
kebebasan berpendapat yang seharusnya di pergunakan dengan baik dan bijak,
disini malah di pakai untuk mengarah kepada penyudutun antar orang maupun
kelompok.
Entah apa yang sedang di pikirkan
mereka ketika pendapat yang telah mereka kemukakan tidak di terima dan
ujung-ujung nya melakukan hal-hal yang seharusnya tidak wajar dilakukan oleh
seorang warga Negara yang baik, apalagi sampai merusak kenyamanan umum. Tidak
sedikit para pelaku yang mengatas namakan masyarakat yang butuh keadilan itu
dari kalangan akademisi yang tergolong orang – orang aktifis yang sudah
mengerti akan segala bentuk tatanan aturan yang ada di Indonesia.
Sangat disayangkan kejadian ini
tidak hanya terulang untuk sekali - dua kali saja, apa dengan cara ini semua
suara mereka di dengar oleh orang – orang yang duduk santai dengan beralaskan
uang rakyat di dalam ruangan ber-AC? Tidak bisa menjamin semua suara mereka di
dengar. Tak sedikit orang memandang hal seperti ini sebagai hal yang wajar
karena menurut sebagian orang ini adalah cara terkhir dan bisa di sebut sebagai
cara paing pamungkas untuk mengetuk hati para wakil rakyat itu.
Saat itu semua terjadi ketika
masalah terus melanda dan akhirnya “dia” sosok utama yang katanya
menjadi tolak ukur suara kami semua, ketika semua masalah dan cara
penyelesaiannya di luar batas kenormalan, diaakan mulai
berbicara dan ketika itu pula suaranya yang sangat di harapkan oleh kami
masyarakat yang butuh akan perhatian “anda” , suara bisingan dari
segala pihak saat itu terjadi terhiraukan, karena berharap semua keluh kisah ku
dan yang lain terdengar olehnya “sang penguasa tanah air tercinta”.
Namun, tidak seperti apa yang di
inginkan oleh ku dan yang lain bisa terwujud. Tapi dari situ aku mengerti
bahwa dia sangat berusaha. Sekali lagi suara kami semua sangat
sulit untuk di dengar, tidak peduli seberapa kerasnya kami melakukan hal ini,
ya mungkin mereka mendengar tapi mereka mendengar itu hanya sebagai nyanyian
dari para pemalas.
0 komentar:
Posting Komentar