Oleh : Agina
Puspanurani
” Ask the jugde to know the rules
Ask the journalist to rule the world “
Jurnalistik identik dengan
wartawan. Bagaimanapun identitasnya jurnalistik ya wartawan -meskipun
spesialisasi ilmu jurnalistik tidak selalu bersinggungan dengan profesi
wartawan-, tapi memang judge-nya demikian. Jadi sebenernya jurnalistik itu apa
sih? Secara teoritis, jurnalistik berasal dari kata journ. Dalam bahasa
Prancis, journ berarti catatan atau laporan harian. Secara sederhana diartikan
sebagai kegiatan yang berhubungan dengan pencatatan atau pelaporan setiap hari
(Sumadiria, 2005:2).
Oke, sepertinya tidak perlu ya
menjelaskan lebih banyak secara teoritis mengenai apa itu Jurnalistik … Bahasa
Jurnalistik … Penulisan Berita … Teori Komunikasi … de-es-be karena kita tidak
sedang kuliah disini -hhehe-. Hanya ingin berbagi opini saja yang kata banyak
orang dunia jurnalistik itu dunia dewa ! Ekstremnya,jurnalis itu seperti
Izrail. Tenang namun mematikan.
Saya memang tidak banyak tahu
tentang dunia dewa ini. Namun mengamati serta mencermati orang-orang
berpengalaman yang telah terjun langsung ke dunia ini, memang begitulah adanya.
Seorang jurnalis harus independen, dia harus punya prinsip yang dipegang kuat
oleh nuraninya. Tapi pada prakteknya? Tidak ada jurnalis yang benar-benar
independen seperti yang telah dianut nuraninya. Pasti akan selalu ada
pergolakkan batin antara prinsip dan kebutuhan. Akan selalu ada
benturan-benturan terutama dengan media tempatnya mengabdi. Terlebih lagi,
bukan hal yang asing jika pemilik media saat ini adalah mereka yang punya
kekuasaan ditunjang perusahaan. Maka, masihkah ada jurnalis yang benar-benar
independen?
Yap, mungkin ada. Ada segelintir
orang yang masih teguh dengan Idealisme, dan Kode Etik Jurnalisnya. Masih ada
mereka yang mau berjuang untuk menyampaikan kebenaran walau hanya mengandalkan
gaji yang minim bahkan teror yang tidak terduga. Tapi bagaimana khalayak bisa
yakin dengan hal tersebut? Berbagai isu yang diangkat oleh media -cetak sampai
elektronik- seperti di-setting oleh mereka yang berkuaasa. Khalayak dibiarkan
terombang-ambing dalam ketidakpastian, apalagi kasus-kasus yang melibatkan kaum
elit. Seperti Century, Lapindo, Antasari, Kematian Munir. Kasus-kasus yang sangat
tidak jelas akhirnya. Kemana para jurnalis yang katanya punya idealisme serta
independen itu? Sampai-sampai kasus tersebut tidak lagi diangkat media hingga
clear.
Saya rasa, mereka ada. Namun
terhalang oleh benteng tinggi nan tebal untuk menyebarkan fakta tersebut.
Terlalu banyak orang penting yang ikut bermain dalam kasus-kasus tersebut.
Darimana lagi khalayak tahu persoalan pemerintahan jika bukan dari jurnalis
yang menyebarkannya melalui media? Ya, jurnalis memang Tuhan. Sepertinya memang
fakta tentang kasus-kasus tersebut ada namun ada permainan yang sedang mereka
jalankan dengan para penguasa. Siapa yang tahu ? Bisa sajakan jurnalis yang
punya fakta itu melakukan kebohongan publik dengan imbalan sekian milyar dari
yang pe-request-nya?Ini prasangka buruk saya tentang jurnalis. Sekali lagi,
jurnalis adalah Tuhan. Dia pun mampu menentukan nasib seorang ‘pejabat’ dan
‘penguasa’. Hidup atau mati.
Ini kenyataan, tidak bisa
dipungkiri lagi. Bagi saya, hal ini menjadi dilema tersendiri. Terlebih lagi
studi yang sedang saya jalani di bangku kuliah ber-konsentrasi di bidang
jurnalistik. Tentu saya akan menjadi seorang jurnalis, wartawan, insan pers
-meskipun, seperti yang saya bilang sebelumnya bahwa lulusan ilmu jurnalistik
tidak selalu harus menjadi wartawan-. Saya punya impian menjadi jurnalis yang
benar-benar berani mengungkap fakta bukan hanya diam tapi berontak ! Saya
berharap bahwa jurnalis yang punya idealisme dan independen itu sejatinya
benar-benar ada dan berani muncul kepermukaan mengemukakan kasus-kasus
spektakuler yang sampai saat ini belum jelas akhirnya.
Mari terus berjuang para Jurnalis … untuk idealisme-mu dan
kebenaran !
0 komentar:
Posting Komentar