Oleh: Ahmad Fauzi Maulana
Tak beda dengan kebutuhan primer lainnya, media sudah
menjelma menjadi suatu hal yang vital bagi kelangsungan hidup manusia. Tak bisa
dipungkiri, keberadaan media dirasa berpangaruh bagi karakter dan budaya negeri
ini. Bagaimana tidak, media yang kini ada dari mulai cetak hingga elektronik
seolah tak lelah terus membanjiri informasi para penggunanya dan semua itu
terkadang tak mampu di bendung bahkan saringan untuk media pun terbilang jebol
atas kekejaman informasi lewat sebuah media.
Ada beberapa fungsi media seperti
informasi, edukasi, hiburan, serta transformasi nilai. Dari keempat fungsi yang
saya sebutkan, saya sedikit mengutip fungsi media sebagai alat edukasi yang
mulai luntur atau bahkan tereliminasi oleh fungsi lainnya. Ketika fungsi media
sebagai hiburan sukses dengan membludaknya peminat yang menngemari acara
hiburan tersebut, fungsi media sebagai alat informasi yang sukses dengan berita
– berita yang membuming di masyarakat serta fungsi media sebagai alat
transformasi nilai yang tak sedikit mampu di adaptasi banyak orang, tapi satu
yang saya sayangkan bahwa fungsi media sebagai alat edukasi yang saya rasa
sudah mulai hilang terkikis pasar.
Saya ambil contoh sederhana, dari sebuah
acara hiburan yang memang benar mampu mengocok perut saya dengan candaan yang
sering berbau hinaan, jahil, kekerasan, serta tak jarang kita tertawa karna
penderitaan orang. memang kita tahu disana acara hiburan, tapi siapa yang
bertanggung jawab bila moral dan karakter bangsa yang bobrok karena terbiasa
melihat acara hiburan yang meluai melumrahkan hal – hal seperti hinaan, jahil,
atau bahkan tertawa atas penderitaan orang? dan memang usia tak menjadi syarat
untuk bisa menikmati acara hiburan ini. dimana kita bisa ambil nilai
edukasinya? oh, mungkin benar kata ayu ting ting, saya salah alamat. tak
seharusnya mencari nilai edukasi di acara hiburan.
Ok, kita ke tampat lain. acara yang
mengandung fungsi informasi seperti acara atau kolom berita. Informasi yang
disajikan di sebuah media di Indonesia sangat berpengaruh terhadap alur cerita
dan tinggi rendahnya tensi di negeri ini. Berita mengenai korupsi, koruptor,
pembunuhan, pemerkosaan atau hal – hal negatif lainnya lebih sering merajalela
di dunia per-media-an dibandinggkan berita – berita positif. Memang tak selalu
begitu, terkadang berita – berita positif hadir secara musiman seperti musim
sea games, itupun kalau Indonesia berprestasi. Atau mungkin terlalu minimnya
prestasi negeri ini hingga tertutup oleh berita – berita negatif dan diperparah
lagi dengan kata “bad news is good news”. Setidaknya, seharusnya dari berita
positif tersempil nilai edukasi yang bisa diambil. Jauh lebih buruk ketika kita
melihat bahwa media berubah menjadi alat tunggangan politik, miris memang.
Sepertinya saya sudah tidak bisa berkata – kata lagi soal itu, kita semua tahu
fenomena mengerikan ini. Jadi, mana nilai edukasi yang disuguhkan media? memang
tak semua media seperti itu, masih ada juga media yang mau memperhatikan fungsi
yang satu ini. tapi mana?
Tulisan ini bukan hasil observasi atu
survei kepada media. Tapi tulisan ini murni subyektifitas saya sendiri. Jadi,
mohon maaf apabila ada pihak yang merasa dirugikan.
0 komentar:
Posting Komentar