Sinergi Berkarya

Selasa, 11 November 2014

Yang Klasik Tetap Lebih Asyik

Oleh : Sonia Fitri

Pernyataan bahwa “media cetak akan punah di masa depan”, 
hanyalah sebuah mitos belaka.

Dunia global saat ini membawa negara ketiga termasuk Indonesia, berancang-ancang memasuki era digital. Globaisasi membuat akses internet bertebaran di mana-mana. Ia tersedia di layar komputer sampai di layar ponsel. Bahkan untuk identitas dasar warga negarapun—Kartu Tanda Penduduk (KTP)—sudah dikonsepkan dengan sistem digital.
Trend up-date status atau BBM menjamur. Aktualisasi diri yang semu difasiltasi oleh dunia maya. Dengan hanya berhadapan dengan layar monitor, silaturahim dan pertemanan bisa dilakukan tanpa bertemu, tidak perlu menguasai ilmu telepati seperti dilakukan para karuhun. Faktanya, perkembangan teknologi dunia telah menakjubkan kita. Pada sistem online, semua orang berlomba-lomba eksis mengekspresikan diri, jejaring sosial yang beragam kemudian menawarkan diri menjadi fasilitator. Begitu pula media massanya, berlomba-lomba pula up-date informasi tercepat, paling akurat.
Anthony Giddens dalam The Third Way (199: 33-38) menjelaskan bahwa globalisasi—yang menjadi penyebab utama lahirnya jaringan internet—adalah kata yang memiliki sejarah yang menarik. Menurutnya, hal pertama yang menyebabkan timbulnya globalisasi adalah masalah ekonomi, perluasan pasar uang dunia adalah perubahan penting. Bergerak dari soal ekonomi, globalisasi kemudian meliputi hampir keseluruhan kehidupan. Ia merupakan transformasi ruang dan waktu dalam kehidupan manusia yang digerakan oleh revolusi komunikasi dan teknologi informasi.
Mengutip pernyataan yang ditulis Acep Iwan Saidi dalam buku “Matinya Dunia Sastra”, bahwa kita telah menyaksikan bagaimana gerakan marxis, baik marxixme yang berharap pada kaum buruh maupun neo marxisme yang meletakkan tugasnya pada seniman dan intelektual untuk melakukan perubahan, telah tidak berdaya. Buruh, intelektual dan seniman bukan melakukan perubahan, tetapi justru terbawa oleh perubahan tersebut. Reformasi total—kata yang sejak tahun 1998 populer dalam euforia politik di Indonesia—adalah angan-angan yang tidak kesampaian.
Apapun bentuknya, media (cetak maupun online) kemudian menjadi sarana yang mengikuti arus dan pola pikir masyarakatnya. Terkait penyalahgunaan internet, ini disebabkan masyarakat kita yang belum siap. Sistem pendidikan kebanyakan menelurkan kaum intelek karbitan. Menurut Acep, diam-diam banyak yang menyadari bahwa kapitalisme yang menjadi sekulit sedaging dengan masyarakat modern nyaris mustahil untuk dijungkirbalikkan dengan revolusi sosial sebagaimana Marx mengharapkannya.
Kapitalisme menjadi penguasa. Semua yang dilakukan beroientasi pada keuntungan materi. Akibatnya, sikap ingin serba instan, simpel, dan praktis menjadi gaya hidup yang diidolakan. Kepraktisan memang menyenangkan. Kembali ke sistem online dan digital di atas, bahwa kita berpeluang menjadi populer dan dikenal dunia meski tak keliling dunia. Dengan maraknya situs berita online, kejadian yang terjadi di seberang pulau, dan seberang benua bisa kita ketahui tanpa perlu menuju ke TKP. Bisnis online menjadi , begitupula pemberitaannya. Bahkan suatu saat nanti, saya dan teman-teman komunitas anak tangga akan menjadi bagian yang mengoptialisasi fungsi online. Mungkin saja.
Berita online unggul dalam kecepatan, meski kerap kecolongan dalam hal akurasi berita. Dari segi persebaran berita, online bisa diakses oleh siapapun di berbagai belahan dunia. Suatu saat nanti tidak menutup kemungkinan semua kegiatan sosialisasi bergantung pada jaringan internet.
Tapi sebuah peradaban akan lahir karena adanya dokumentasi. Karena itulah budaya tulis dan cetak hadir mengawali. Membuka kamus bahasa asing secara manual contohnya, akan berbeda rasanya dengan membuka kamus digital. Tentunya, yang digital lebih mudah, cepat dan praktis. Tapi dampak buruknya, cara praktis membuat kita malas dan tidak menghayati proses pembelajaran. Sama halnya ketika membaca koran versi cetak, lebih asyik dan tak membuat pegal mata.
Intinya, kehadiran internet dan sistem digital tak bisa menggantikan peran media cetak, meski masing-masing punya keunggulan tersendiri. Klasik itu tetap lebih asyik. Dunia baca dan dokumentasi nyata harusnya tetap diminati oleh kaum yang berperadaban. Maka, saya berkesimpulan bahwa pers belum akan menemui ajalnya di masa depan akibat hadirnya online. Entah dengan konvergensi atau cara apapun, saya berkesimpulan bahwa peran online tidak akan bisa menggantikan posisi dan peran media cetak karena yang klasik itu lebih asyik.

0 komentar:

Posting Komentar