Oleh : Sonia Fitri
Pernyataan bahwa “media cetak akan
punah di masa depan”,
hanyalah sebuah mitos belaka.
Dunia global saat ini membawa negara
ketiga termasuk Indonesia, berancang-ancang memasuki era digital. Globaisasi
membuat akses internet bertebaran di mana-mana. Ia tersedia di layar komputer
sampai di layar ponsel. Bahkan untuk identitas dasar warga negarapun—Kartu
Tanda Penduduk (KTP)—sudah dikonsepkan dengan sistem digital.
Trend up-date status atau BBM menjamur.
Aktualisasi diri yang semu difasiltasi oleh dunia maya. Dengan hanya berhadapan
dengan layar monitor, silaturahim dan pertemanan bisa dilakukan tanpa bertemu,
tidak perlu menguasai ilmu telepati seperti dilakukan para karuhun.
Faktanya, perkembangan teknologi dunia telah menakjubkan kita. Pada sistem
online, semua orang berlomba-lomba eksis mengekspresikan diri, jejaring sosial
yang beragam kemudian menawarkan diri menjadi fasilitator. Begitu pula media
massanya, berlomba-lomba pula up-date informasi tercepat,
paling akurat.
Anthony Giddens dalam The
Third Way (199: 33-38) menjelaskan bahwa globalisasi—yang menjadi
penyebab utama lahirnya jaringan internet—adalah kata yang memiliki sejarah
yang menarik. Menurutnya, hal pertama yang menyebabkan timbulnya globalisasi
adalah masalah ekonomi, perluasan pasar uang dunia adalah perubahan penting.
Bergerak dari soal ekonomi, globalisasi kemudian meliputi hampir keseluruhan
kehidupan. Ia merupakan transformasi ruang dan waktu dalam kehidupan manusia
yang digerakan oleh revolusi komunikasi dan teknologi informasi.
Mengutip pernyataan yang ditulis
Acep Iwan Saidi dalam buku “Matinya Dunia Sastra”, bahwa kita telah menyaksikan
bagaimana gerakan marxis, baik marxixme yang berharap pada kaum buruh maupun
neo marxisme yang meletakkan tugasnya pada seniman dan intelektual untuk
melakukan perubahan, telah tidak berdaya. Buruh, intelektual dan seniman bukan
melakukan perubahan, tetapi justru terbawa oleh perubahan tersebut. Reformasi
total—kata yang sejak tahun 1998 populer dalam euforia politik di
Indonesia—adalah angan-angan yang tidak kesampaian.
Apapun bentuknya, media (cetak
maupun online) kemudian menjadi sarana yang mengikuti arus dan pola pikir
masyarakatnya. Terkait penyalahgunaan internet, ini disebabkan masyarakat kita
yang belum siap. Sistem pendidikan kebanyakan menelurkan kaum intelek karbitan.
Menurut Acep, diam-diam banyak yang menyadari bahwa kapitalisme yang menjadi
sekulit sedaging dengan masyarakat modern nyaris mustahil untuk
dijungkirbalikkan dengan revolusi sosial sebagaimana Marx mengharapkannya.
Kapitalisme menjadi penguasa. Semua
yang dilakukan beroientasi pada keuntungan materi. Akibatnya, sikap ingin serba
instan, simpel, dan praktis menjadi gaya hidup yang diidolakan. Kepraktisan
memang menyenangkan. Kembali ke sistem online dan digital di atas, bahwa kita
berpeluang menjadi populer dan dikenal dunia meski tak keliling dunia. Dengan
maraknya situs berita online, kejadian yang terjadi di seberang pulau, dan
seberang benua bisa kita ketahui tanpa perlu menuju ke TKP. Bisnis online menjadi
, begitupula pemberitaannya. Bahkan suatu saat nanti, saya dan teman-teman
komunitas anak tangga akan menjadi bagian yang mengoptialisasi fungsi online.
Mungkin saja.
Berita online unggul dalam
kecepatan, meski kerap kecolongan dalam hal akurasi berita. Dari segi
persebaran berita, online bisa diakses oleh siapapun di berbagai belahan dunia.
Suatu saat nanti tidak menutup kemungkinan semua kegiatan sosialisasi
bergantung pada jaringan internet.
Tapi sebuah peradaban akan lahir
karena adanya dokumentasi. Karena itulah budaya tulis dan cetak hadir
mengawali. Membuka kamus bahasa asing secara manual contohnya, akan berbeda
rasanya dengan membuka kamus digital. Tentunya, yang digital lebih mudah, cepat
dan praktis. Tapi dampak buruknya, cara praktis membuat kita malas dan tidak
menghayati proses pembelajaran. Sama halnya ketika membaca koran versi cetak,
lebih asyik dan tak membuat pegal mata.
Intinya, kehadiran internet dan
sistem digital tak bisa menggantikan peran media cetak, meski masing-masing
punya keunggulan tersendiri. Klasik itu tetap lebih asyik. Dunia baca dan
dokumentasi nyata harusnya tetap diminati oleh kaum yang berperadaban. Maka,
saya berkesimpulan bahwa pers belum akan menemui ajalnya di masa depan akibat
hadirnya online. Entah dengan konvergensi atau cara apapun, saya berkesimpulan
bahwa peran online tidak akan bisa menggantikan posisi dan peran media cetak
karena yang klasik itu lebih asyik.
0 komentar:
Posting Komentar